Pages

Kategori

Senin, 14 Desember 2015

CARA MASYARAKAT SUKU OSING (JAWA TIMUR) MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN KETIKA MEREKA BERADA ATAU HIJRAH KE KOTA BESAR

      Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukota terletak di Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 37.476.757 jiwa (2010). Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawadi utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Provinsi Jawa Tengah di barat. Wilayah Jawa Timur juga meliputiPulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Kangean serta sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Jawa dan Samudera Hindia (Pulau Sempudan Nusa Barung).

  • Suku Osing
Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai "wong Blambangan" dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Kehidupan sehari-hari masyarakat Using yaitu menjalankan aktivitas mereka yang memiliki pekerjaan yaitu dibidang pertanian sawah dan lading yakni sebagai petani, pemilik dan penggarap, dan buruh tani.

Masyarakat Using sangat kuat dalam memegang tradisi namun dinamis sehingga tidak tergerus oleh budaya global. Proses perkembagan kebudayaan yang terjadi pada masyarakat Using tidaklah terjadi secara tiba-tiba, namun melalui proses yang sangat panjang yang didukung oleh sifat masyarakat using itu sendiri yang sangat terbuka bagi masuknya unsur-unsur kebudayaan lain yang mewarnai dinamika kebudayaan mereka.


  • Adat Istiadat, Budaya dan Kesenian Masyarakat Osing Banyuwangi

Di bidang adat istiadat masyarakat Osing mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat pengakuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari. Pada adat istiadat perkawinan suku Osing yaitu Dalam tradisi pernikahan Suku Osing, gaya busana pengantin banyak dipengaruhi oleh gaya Jawa, Madura, Bali, dan suku lain. Jadi, tidaklah terlalu unik. Yang menarik justru tradisi mereka yang dikenal dengan istilah geredhoan, yaitu ajang mencari jodoh yang dilakukan oleh pemuda-pemudi suku tersebut. Tetapi pada prinsipnya mereka mengawali hidup baru dengan tradisi perkenalan, lalu ke tahap meminang dan terakhir baru ke pelaminan.
  • Karakteristik Masyarakat Using Banyuwangi
Masyarakat Using Banyuwangi dapat dikatakan sebagai masyarakat yang dinamis, tidak suka berkelahi dan familier, namun oleh kalangan budayawan dikatakan juga memiliki ciri-ciri yang tidak ideal. Seperti yang dikatakan oleh Hasnan Singodimadyan bahwa kepribadian masyarakat Using tidak bersifat halus atau toleran seperti oran Jawa., melainkan bersifat aclak, ladak, bingkak dan tidak punya sopan santun. Aclak berarti sok tahu, sok ingin memudahkan orang lain dan tidak takut merepoti diri sendiri walaupun tidak sanggup melakukannya atau sering disebut juga sebagai “maunya sendiri”. Sedangkan Ladak berarti sombong . bingkak berarti acuh tak acuh , tidak mau tahu urusan orang lain. Diantara ketiga sifat tersebut, aclak merupakan sifat yang paling dominan. Dalam perkembangannya, aclak tidak  saja menyangkut sifat, tetapi juga sikap masyarakat Using Banyuwangi.


  • Sistem Sosial

Masyarakat Using dalam melihat dan memahami realitas sosial bukan secara hirarkis sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya. Status atau atribut sosial yang melekat pada diri seseorang tidak mempola hubungan sosialnya.Prinsip hormat tidak bersifat vertical-hirarkis tetapi bersifat penghargaan dalam kesetaraan (horizontal). Aktualisasi prinsip kesetaraan dalam interaksi sosial tersebut tampak dalam penggunaan bahasa mereka tidak mengenal hirarki bahasa seperti yang ada dalam bahasa Jawa ada istilah karma inggil, karma dan ngoko. Oleh sebab itu Osing dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Masyarakat Osing hanya hormat secara vertical sebagai sentuhan nilai budaya Jawa kepada mertua dan orang yang telah menunaikan ibadah haji yang telah teraktualisasikan dalam ragam bahasa tingkat krama dan masyarakat Osing mengenalnya dengan sebutan Besiki.

  • Kendala Masyarakat Suku Osing  dalam mempertahankan kebudayaan di Kota besar
Masyarakat Suku Osing Tentu Sangat kental akan Kebudayaan maupun adat istiadatnya, okepleh karena itu pada saat mereka berada di kota lain terutama kota besar mungkin kendalanya adalah tidak cukup ruang atau tempat serta waktu untuk mengaplikasikan kebudayaan maupun adat istiadat di kota besar.






DAFTAR PUSTAKA



Evan Permana, Proposal film documenter seri Kebudayaan Osing dalam program budaya Tribute to East Java Heritage. Surabaya: Institute Teknologi Sepuluh November.



0 komentar:

Posting Komentar