- Dampak Positif
Perkembangan Keruangan yaitu program penataan kawasan pantai di Kelurahan Gamalama dengan jalan
melakukan reklamasi memberikan dampak positif terhadap perkembangan keruangan,
yaitu bertambahnya luas lahan terbangun.
Perubahan fungsi Ruang/lahan di Kelurahan Gamalama. Kelurahan Gamalama kedudukan dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota
(RUTK) Ternate 2001-2010 termasuk dalam Bagian Wilayah Kota I (BWK) memiliki
fungsi sebagai Pusat Perdagangan, Pemerintahan dan Pariwisata Terpadu. Wilayah ini
diharapkan akan menjadi salah satu kawasan andalan bagi pengembangan
perekonomian Kota Ternate serta regional di Provinsi Maluku Utara, maupun dalam
kaitannya dengan kawasan Asia Pasific.
- Dampak Negatif
Pasang Surut, Pola Arus dan Abrasi Pantai.
1) Pasang Surut. Data sekunder Tahun 2004 mengenai pasang surut, dari hasil pengukuran yang
dilakukan oleh LP2S MU, pada masing-masing lokasi (Dufa-dufa, Gamalama, dan
Kalumata) ditemukan nilai F antara 0,26-1,50 dengan demikian, tipe pasang surut
(pasut) Pulau Ternate termasuk dalam kategori campuran mirip harian ganda
sebagaimana umumnya tipe pasang surut di perairan bagian timur Indonesia. Nilai
kisaran pasang surut (tide range) adalah perbedaan antara tinggi muka air pada saat
pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat minimum, rata-rata berkisar antara
1-3 meter.
2) Pola Arus. Dari data pengukuran arah dan kecepatan arus permukaan di perairan Pulau
Ternate, pada saat air laut pasang kecepatan arus di perairan dermaga Ahmad Yani 56
cm/detik dengan arah 500 Tenggara, dan kecepatan arus 34 cm/detik dengan arah 450
Timur. pada saat surut, dengan demikian kecepatan arus pada saat pasang di perairan
dermaga Ahmad Yani lebih besar bila dibandingkan pada saat surut. Kecepatan arus di
perairan reklamasi 20 cm/detik pada saat pasang dengan arah 300
Timur Laut.
Sedimentasi.
Pembuatan tanggul laut (construction sea wall) tanpa komposisi yang dirancang
dengan konstruksi yang tidak memperhatikan arah arus bawah laut, pecahnya ombak
dan gelombang serta pasut dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi pada perairan
pantai di sekitarnya.
Kedalaman Laut.
Hasil pengukuran lapangan menunjukkan hanya di perairan laut Dermaga
Resident 200 m ke arah selatan dari lokasi lahan reklamasi yang kedalamannya
mencapai 1,94 m sedangkan pada lokasi perairan laut terminal baru lainnya kedalaman
kurang dari dari 2 m, bahkan ada yang hanya 0,94 m seperti perairan di depan Kedaton
Kesultanan Ternate (Kelurahan Salero).
Banjir dan Sampah.
Hasil pengamatan di lapangan, penyebab utama terjadi banjir di tiga lokasi
tersebut terutama diakibatkan oleh buruknya sistem drainase perkotaan, sehingga
meluapnya air ke badan jalan. Walaupun tidak ada pengaruh secara langsung antara
reklamasi dengan banjir, namun demikian banjir mengakibatkan terganggunya aktifitas
masyarakat terutama bagi para pedagang kaki lima.
Kerusakan Terumbu Karang dan Padang Lamun.
Kegiatan reklamasi pantai di Kelurahan Gamalama sangat berpengaruh terhadap
keberadaan terumbu karang terutama bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya.
Penggunaan tanah urugan yang terlepas keperairan dapat menyebabkan terjadi proses
sedimentasi di sekitar lokasi reklamasi.
2. Upaya yang Dilakukan Untuk Menekan Dampak Negatif
Dari uraian berbagai dampak pada pembahasan sebelumnya, maka dalam
penelitian ini mengunakan tiga pendekatan startegis yaitu:
1) Tindakan preventif yaitu
pencegahan agar tidak muncul dampak negatif dari pelaksanaan reklamasi pantai,
2) kuratif
yaitu solusi untuk perbaikan terhadap dampak dari pelaksanaan reklamasi pantai yang
sudah terlanjur ada,
3) pengembangan yaitu solusi ke masa depan terhadap dampak positif
maupun negatif.
Sumber :
Djainal, Herry.2012.REKLAMASI PANTAI DAN PENGARUHNYA TERHADAP LINGKUNGAN FISIK DI
WILAYAH KEPESISIRAN KOTA TERNATE.Ternate:Universitas Islam Sultan Agung. Diunduh di http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/jlsa/article/download/228/204